Trona, Allanite.

Tidak ada yang memecahkan keheningan itu, bahkan rintik hujan sekalipun. Sepuluh menit berselang, Trona dengan khidmat masih memandangi hujan, seolah ada magnet yang menariknya dari alam sadarnya.

“I’m lost, Lan.”

Tepat ketika Allan akan membuka mulut, Trona berkata demikian.

“Indeed you are. Na, 15 menit sejak gue dateng lo ngacangin gue, thank you ya.”

Trona hanya membalasnya dengan senyuman. Dia sudah hafal dengan sifat sahabatnya itu, yang selalu straight to the point.

Tidak puas hanya dijawab dengan senyuman, Allan melanjutkan perkataannya. “Ada apa, Na?”

“I think I’ve lost what they called passion, Lan.”

“And what makes you think that you’ve lost your passion?”

Trona menghela napas, mengaduk teh yang dipesannya. “Gue nggak semangat lagi kuliah. Gue ngerasa males banget pas ngerjain tugas-tugas kuliah.” Memberi jeda sejenak untuk menyusun kalimatnya, Trona kemudian melanjutkan. “You told me once that, passion is something which makes you happy, something which makes you do everything with the whole of your heart, yet I can’t feel the thrill anymore, Lan.”

“Okay, let’s say that you’ve lost your passion. Dan disini, passion lo adalah major yang lo ambil, kan? Tapi Na, penyebab lo nggak lagi semangat kuliah pasti ada kan. Losing passion is just an excuse, I think.”

Sekali lagi Trona tersenyum. “You always be Mr.Right, Lan.”

“I am.”

“Gue gagal dapet nilai bagus di salah satu mata kuliah. And it makes me think like, am I in the right place? Sejak saat itu, gue ngerasa nggak lagi happy ngejalanin kuliah.”

“Na, academia can be brutal sometimes, it makes us doubt ourselves. But don’t let the failures get you down. Gue yakin lo adalah orang yang tahu bener, apa yang lo jalanin sekarang. Gue inget ketika dulu lo cerita impian-impian lo, dan hanya karena sandungan kerikil gini, you give up on your dreams, lo bukanlah Trona yang gue kenal.”

Keheningan menggantung diantara keduanya. Masih ditemani oleh rintik hujan yang sama, namun hujan tak lagi menjadi magnet bagi Trona. Magnet itu berubah medan, dari rintik hujan menjadi perkataan Allan.

—————————————————————————————————————————————–

A glance of info, nama tokohnya saya ambil dari nama mineral, wkwkwk.

Trona : Sistem kristalnya monoklin, colorless, kekerasan 2.5-3, kilap lemak, cerat putih, struktur tabular, mineral ini banyak ditemukan pada endapan evaporit di iklim arid. Kalo mau ketemu mineral ini bisa pergi ke USA (Wyoming, California, atau ke Nevada).

Allanite : Sistem kristalnya monoklin, warnanya kecoklatan, kekerasan 5.5-6, kilap semi logam, cerat abu-abu, struktur prismatik, ditemukan sebagai mineral aksesoris batuan beku plutonik asam dan batuan metamorf kontak. Mineral ini ditemukan di Swedia, USA, sama Italy.

Letter to A Stranger

-To the old man carrying a sack on his shoulder-

IMG_1388

Two years ago. 5:16 AM.

I was at the southern part of java—hunting for the dawn. I still remember the smell of the shore, the wind, even the bluish light from the dawn. All those combinations were perfect. Thus, I was busy gazing to the whole part of the shore, mesmerized by how tremendous and large the universe is, through the sea. And you were there. Appeared up nowhere, yet walking down slowly with your bare feet. We met for a reason, and I knew that.

I kept notice you. Watching in a radius 100 m away from where you walked. You brought a plastic sack on your shoulder. At a glance, you looked 50 or 60. Wearing a white shirt and kopyah—something like cap that muslim’s use for praying. And short pants. No sandal. I knew at that time, the condition wasn’t bare to the sun, but still, you don’t know what kind of materials could stick on your feet. Regardless of the condition, you kept walking.

Sometimes, you stopped, then bending over to collect the trash in front of you. I couldn’t imagine on how the struggle you had, woke up very early, and headed up to the shore just to collect trashes. Once again, you kept walking, no matter what.

This night, I was looking up to my old file pictures and eventually found your picture. That picture, awoken my memories of you. And I realize one thing.

Strength grows in the moment when you think you can’t go on but you keep going anyway

-Anonymous

That is the reason for our meeting, 2 years ago, Sir. To remind me that the moment when I want to give up, I have to stand up and continue what I have started, because there are tons of people out there who have more severe struggle, just to survive, to keep alive.

Thank you Sir.

And Sir, one question I wanna ask, can I finish one thing before running forward? Only for the sake of certainty, Sir.

You don’t have to answer.

Once again, thank you for that short yet precious moment.

IMG_1398_1

Yogyakarta, 6th May 2017

00.56 am

In the middle of campus life’s hustle bustle

Beauty in The Middle of 2 AM Convo

“Define beauty.”

“What? It’s 2 am in the morning for god’s sake.”

“I know.”

“I think I might go back to sleep.”

“No, don’t. Tell me what’s your definition of beauty.”

“Can we discuss it tomorrow? I’ll head up to your room right away.”

“Do whatsoever you want.”

“You sound scarier than my girlfriend.”

“You won’t believe if I tell you that I bring a knife in my hand right now.”

“Wait, don’t tell me you are a psycho.”

“It’s for peeling my apple.”

“You are calling me this early while eating apple. Tell me, do you brokenhearted or something?”

“No. Instead of asking, can you just answering?”

“Alright. I’ll answer before you start raging me.”

“You truly are my ace buddy.”

“I know I am.”

“I’ll buy you whatever you want at Shake Shack tomorrow.”

“Deal.”

“I’m listening.”

“You know I can’t define beauty that easy.”

“I know you prefer solving linear differential equations than define that.”

“You got me.”

“Thanks for trying.”

“I tend to find beauty in everything. She can be tall, short, blonde, brunette, dark or light skinned and considered beautiful by me.”

“Don’t beat about the bush with me.”

“I’m not.”

“What about first impression? I’m sure you will see a woman based on her physical appearance.”

“I’m telling you the truth. Yes I will.”

“See? You lied that you can find beauty in everything.”

“I didn’t lie. It’s true that first impression will be physical appearance, but beauty can’t be seen only in physical appearance.”

“…..”

“You already know what I mean right?”

“….”

“ Easy. Not everyman sees beauty only in the outside. If you are loved because you are beautiful, the love isn’t eternal as your beauty is not eternal as well. Vice versa, if you are loved because of your manner, it stays forever.”

“….”

“Don’t cry.”

“I’m not.”

“You forgot one thing.”

“Thank You. You’re the best buddy ever.”

“Not that.”

“See you at 9 am sharp. Across Madison Square Park.”

“You really know me well. I can order everything I want, right?”

“Yeah.”

“Shack stack?”

“You haven’t eaten a week, Have you?”

“Definitely. See you tomorrow.”

“See you.”

— end —

Wow 2 posts in a month. I really have to celebrate this, lol. I want to share about my definition of beauty, yet wrapped in a different style. And here it is. A random convo that I made. All the characters are fiction. Hope y’all enjoy ^^

Putih Abu-Abu

Putih Abu-abu. Masa yang paling indah katanya.

Setiap sudutnya meninggalkan kenangan. Menyisakan sesimpul senyum ketika kamu mengingatnya kembali. Masih ingatkah kamu, saat pertama kali memakai seragam itu—seragam putih abu-abu, rasanya biasa saja, tak ada yang spesial. Kamu pun mulai menyangsikan bagaimana orang menggembor-gemborkan bahwa masa SMA adalah masa terindah. Tetapi, rasa yang biasa itu berubah ketika kamu tak lagi memakainya. Kamu rindu.

“Hei, apa kabar gedung induk lantai 2? Masihkah kamu bertahan dengan lantai kayumu? Dengan karpet berwarna hijau yang menjadi kasur kedua bagi kami. Jendela besar yang ada di ujung koridor itu, masihkah meninggalkan siluet ketika seseorang berada di depannya? “

Satu tahun lalu, di akhir kelas 2, masih teringat jelas bagaimana kita dengan bersemangatnya pindah dari west class ke gedung induk lantai 2. Akhirnya! Selamat tinggal sauna, selamat datang karpet dan speaker. Dengan menempati gedung induk lantai 2, kita serasa berada di puncak rantai makanan, dimana kita adalah predator yang tak terkalahkan (re: senior). Terlepas dari privilege itu, bagi saya, saat itulah cerita kita dimulai.

Tahun ketiga, dimana kita dibuat pusing oleh rencana akan masa depan. Senja kita habiskan dengan mengikuti bimbel, demi mencapai goals utama kita, masuk di PTN favorit idaman dan lulus UN dengan nilai memuaskan. Hujan diterjang, panas tak dihiraukan, dengan secangkir kopi rasa kantuk itupun dimusnahkan. Namun, dibalik itu semua, ingatkah kalian dengan momen-momen kecil kita?

Kita memang cupu, tidak pernah memenangi perlombaan antar kelas. Kita memang disibukkan dengan belajar dan berambis ria, hingga seolah-olah terasingkan dari angkatan. Kita memang bukanlah yang terkuat (bahkan seringkali bingung mencari pemain) maupun supporter terheboh saat smada cup. Itulah kita.

Dan kita yang cupu, kita yang ambis, kita yang terlalu akademis itulah yang membuatku rindu.

“Hei, apa kabar Pak Wat? Masih setia berada di depan gerbang smada dengan masterpiecemu itu? Ya pentol terenak yang nggak bisa ditemukan dimana-mana, baik dari segi tekstur dan rasa.”

Bel pulang telah berbunyi. Bagi adik-adik kelas 1 dan 2, saatnya bernapas lega. Tetapi tidak bagi kami, senior yang harus menghadapi hukuman mati sebentar lagi. Yey! Saatnya bimbel. Hujan tiba-tiba datang, membuat kita malas keluar untuk mencari makan. Tetapi selalu ada cara untuk bertahan menghadapi perut yang keroncongan. Ya, ketika ada satu orang yang berkata “Aku pengen pentol Pak Wat”, langsung saja kita serbu orang tersebut untuk dititipi. Kertas berisi pesanan dikeluarkan. Tiga ribu, kuah, pedes, pentol besar 2. Lima ribu, tanpa kuah, kecap, pedes. Dua ribu, tanpa kuah, tanpa kecap, tanpa sambal, tanpa pentol, lhoh (?) Begitulah pesanan kita. Sungguh, jasa Pak Wat dan jasa orang yang kita titipi pentol tak akan terlupa.

“Hei, apa kabar buku paket matematika sukino? Masih tebalkah kamu? Masihkah soal-soalmu membuat kami ingin mati rasanya ketika mengerjakanmu?”

PR! Kerjakan buku paket sukino halaman bla bla bla la la la…. Saat itu rasanya ingin berkata tidak halus. Karena mata harus bersiap untuk begadang di malam hari, whatsapp harus diaktifkan untuk mengecek ada atau tidak yang sudah ngeshare jawaban. Tetapi justru itulah pointnya, senang susah yang dilalui bersama-sama, rasa senasib seperjuangan itulah yang mendekatkan kita.

“Hei, apa kabar hati? Masihkah menyimpan perasaan yang belum terucapkan?”

Well, mungkin tidak semua. Tapi beberapa diantara kita tidak bisa menyangkal akan hal ini. Ruang kelas tercintalah saksinya, dimana kamu curi-curi pandang untuk melihat dia, selalu penasaran akan hal apa yang dilakukannya, tetapi dengan cepat kamu memalingkan mukamu ketika si dia membalas tatapanmu. Kamu berharap dia mengetahui dan membalas perasaanmu, tetapi kamu lebih memilih untuk menyimpan perasaan itu rapat-rapat. Karena memandangi dia dari jauh sudah lebih dari cukup.

Itulah sepotong kisah kita. Tanpa kita sadari, kita membenarkan bahwa memang, masa putih abu-abu adalah masa yang tidak bisa terlupakan. Suatu saat, ketika kamu berada di kantormu, sibuk berkutat dengan pekerjaanmu, kamu akan terdiam sejenak dan mengingat-ingat masa indah ini sambil tersenyum.

I really mean it. Trust me, you’ll feel that moment someday.

Berjanjilah untuk menggapai impian kalian, bagaimanapun susahnya. Jangan dengarkan ocehan orang lain terhadap apa yang kalian lakukan. Karena impian itu layak diperjuangkan, dan ocehan mereka layak untuk dibungkam dengan kesuksesan.

Terimakasih sudah mewarnai putih abu-abu saya.

Regards,

Nd

PS:

  1. This post is fully dedicated to all my dearest friend of SOS, MIA 7 SMAN 2 Kediri
  2. Jika ada kesempatan, jangan lupa untuk menuntaskan kisah mengenai rasa yang pernah ada itu. Good luck Pals!

282307

Shout It Out

Di sebuah ruangan serba putih, duduk berjejer mahasiswa baru dengan ekspresi excited dan khawatir yang tampak jelas di wajah mereka. Tak terkecuali, seorang gadis berkacamata yang duduk dua baris dari depan. Sedari tadi, matanya lekat memandang pintu, menunggu sang dosen masuk. Segenggam semangat dan harapan ia simpan dalam hati. Semangat dalam mengikuti kuliah perdana pagi itu, dan harapan bahwa kuliah tersebut akan menjadi awal yang baik untuk perjuangannya di kampus barunya.

Tak berapa lama kemudian, yang ditunggu-tunggu pun datang, dosen pengampu mata kuliah kimia dasar di semester 1. Dosen tersebut terlihat masih muda, mungkin usianya baru menginjak pertengahan tiga puluh. Namun, umur bukanlah jaminan luasnya pengetahuan seseorang. Dari pertama kali sang dosen membuka mulut, gadis itu sudah paham bahwa ilmu dan wawasan yang diketahui sang dosen tidak main-main luasnya. Benar saja, bukannya memperkenalkan diri, sang dosen  membuka mata kuliah perdananya dengan pertanyaan yang sangat menohok.

Apa yang membuat kalian tertarik masuk di Teknik Geologi?

Dalam kepala sang gadis, jawaban dari pertanyaan sang dosen sudah mengepul ingin ditunjukkan. Tapi sang gadis tetap menutup mulut, tidak mempunyai nyali untuk menjawab.

Sang gadis tahu benar, di ruangan tersebut terdapat banyak mahasiswa yang ambisius. Dan tidak sedikit pula yang introvert. Gadis itu merasa berada di antara keduanya, ambisius dan introvert. Tetapi, entah mengapa kali itu sang gadis membiarkan sisi introvertnya mengambil alih. Hingga pertanyaan tersebut selesai dijawab oleh beberapa temannya, gadis itu tetap diam. Dalam diamnya, sang gadis memutar memori 4 bulan sebelum hari itu, ketika dia masih belum menginjakkan kaki sebagai mahasiswi.

Kamu kenapa kok milih Teknik Geologi? Udah siap panas-panasan, hujan-hujanan, kerja lapangan gitu?

Gadis itu teringat ketika salah satu temannya di SMA menanyakan hal tersebut. Dengan tersenyum, gadis itu menjawab seadanya, tidak memberikan detail yang lengkap perihal keputusannya mengambil jurusan Teknik Geologi.

Dan gadis itu menyadari, setelah penjelasan singkat yang ia paparkan, temannya masih belum mengerti keputusan gilanya.

Gadis itu kemudian memahami suatu hal.

Impian itu tidak perlu disembunyikan. Yang perlu dilakukan adalah tunjukkan dan wujudkan impianmu itu.

Beberapa menit berkutat dalam pergumulan di otaknya, gadis itu perlahan-lahan mengangkat tangannya. Semua perhatian di ruangan itu tertuju padanya. Termasuk sang dosen.

“Ya, silahkan.” Ujar sang dosen.

“Saya memilih untuk masuk di Teknik Geologi karena saya tidak ingin melakukan apa yang orang kebanyakan lakukan. Saya ingin menjelajah dunia dengan ilmu yang saya miliki. Dan saya ingin ilmu saya bermanfaat, seperti yang Bu Pri Utami dengan geothermalnya dan Bu Dwikorita Karnawati dengan penelitian tanah longsornya lakukan.”

20140315_112227

Saya, ya itu saya, 2 tahun lalu wkwkwk

 

I’m back with an Essay

Hello fellas! It has been a long time since I posted as this past 6 months were such a hectic months. UN, SNMPTN, and those stuff.

So, post ini sebenarnya tugas ospek gitu. But I feel like I don’t want to waste my hardwork by keeping this ospek work privately. Happy reading.

Membangun Peradaban Islam melalui Ayat Kauniyah

Bangun tidur, bekerja, tidur kembali. Rutinitas monoton yang dilakukan oleh kebanyakan manusia modern masa kini. Tidakkah dunia akan lebih indah jika mereka berhenti untuk sejenak menghela napas, kemudian melihat dunia di sekitar mereka. Bagaimana mereka tetap bisa menjejakkan kaki di atas tanah tanpa terjatuh, apakah sinar matahari yang menyambut mereka di pagi hari dibutuhkan oleh makhluk lain, mengapa hujan datang, darimana gunung menjulang itu terbentuk dan pertanyaan-pertanyaan 5W1H lainnya. Dan lebih dari itu, pernahkah terpikir di benak mereka, apakah Allah SWT telah mengatur pertanyaan dan jawaban mereka dalam Al-Quran?

ali imran

Artinya: “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

Sudah jelas dalam ayat tersebut bahwa Allah memerintahkan makhluknya untuk berpikir. Manusia berbagi gen yang sama sebanyak 97% dengan orang utan, dan 3% sisanya merupakan pembeda manusia dengan orang utan, pembeda itu adalah akal. Sia-sia saja Allah SWT memberikan kita akal namun tidak digunakan untuk berpikir, untuk mentadabburi apa yang Allah SWT ciptakan untuk kita.

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah minta izin untuk beribadah pada suatu malam, kemudian bangunlah dan berwudu lalu salat. Saat salat beliau menangis karena merenungkan ayat yang dibacanya. Setelah salat beliau duduk memuji Allah dan kembali menangis lagi hingga air matanya membasahi tanah.

Setelah Bilal datang untuk azan subuh dan melihat Nabi menangis ia bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa Anda menangis, padahal Allah Swt. telah mengampuni dosa-dosa Anda baik yang terdahulu maupun yang akan datang?” Nabi menjawab, “Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah Swt.?” dan bagaimana aku tidak menangis, pada malam ini Allah Swt. telah menurunkan ayat kepadaku. Kemudian beliau berkata, “alangkah ruginya dan celakanya orang-orang yang membaca ayat ini tetapi tidak merenungi kandungannya.”

Bahkan dalam tafsir tersebut, Rasulullah sebagai orang paling bersih dan mulia saja menangis ketika menyadari betapa besar nikmat Allah, yakni berupa alam semesta dengan segala misterinya. Air mata Rasulullah tersebut didapat dari proses berpikir. Memikirkan ayat kauniyah yang baru saja Allah SWT turunkan kepadanya.

Gravitasi, proses fotosintesis, pergantian siang dan malam, daur air, pergerakan lempeng tektonik dan milyaran hal lain merupakan petunjuk dari Allah bagi mereka yang berpikir. Bukan tanpa alasan Allah meminta manusia untuk memikirkan cipataan-Nya, melainkan karena Allah ingin membuka mata manusia atas betapa besar karunia yang telah Allah ciptakan. Dengan demikian, manusia akan selalu mengingat Allah SWT dan bersyukur atas nikmat-Nya.

Alam semesta dengan segala misteri dan keindahannya merupakan hal yang mengagumkan bagi saya. Begitupun juga dengan Al-Quran. Walaupun saya kesusahan untuk menafsirkan tanpa melihat kitab tafsir, tapi saya menemukan bahwa ayat-ayat itu indah dan penuh inspirasi. Dua hal tersebut adalah semangat saya dalam menuntut ilmu. Bagi saya, ilmu itu infinite, tanpa batas. Semakin banyak digali, semakin luas ilmu itu tampak. Dan bagi saya ilmu pengetahuan adalah kunci untuk membuka gerbang kejayaan islam kembali.

Telah kita ketahui bersama bahwa dunia islam pernah mencapai masa keemasan di bidang sains dan teknologi, tepatnya di bawah Dinasti ‘Abbasiyah yang berkuasa sekitar abad ke-8 sampai ke-15. Banyak ilmuwan islam di masa Dinasti ‘Abbasiyah yang telah menelurkan masterpiece mereka. Dunia tak akan melupakan sumbangsih dari Al-Khawarizmi dengan Al-Jabbar nya, Ibnu Sina melalui bukunya Qanun fi Thib/ Canon of Medicine di bidang kesehatan, Al- Batani dengan penemuan tahun mataharinya, Ibnu Rusyd dengan filsafatnya serta banyak cendekiawan muslim lainnya. Masa keemasan itu tak akan ada tanpa adanya kesadaran cendekiawan muslim untuk memikirkan ciptaan Allah SWT. Tradisi intelektual serta semangat dalam mencari dan mengembangkan ilmu telah menjadikan islam saat itu sebagai agama yang paling disegani di dunia.

Para sarjana Muslim itu pula yang menjadi jembatan dan perantara bagi kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern saat ini. Dari dunia Islamlah ilmu pengetahuan mengalami transmisi, diseminasi, dan proliferasi ke dunia Barat yang mendorong munculnya zaman pencerahan (renaissance) di Eropa. Melalui dunia Islam, Barat mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan modern. Singkat kata, tanpa peran sarjana Muslim klasik tidak mungkin disaksikan telepon, televise, mobil, computer, pesawat yang mampu mengangkut jamaah haji dengan cepat maupun pesawat ulang-alik Challenger atau Soyuz (Purwanto, 2008, p.21)

Sains dan teknologi adalah hal yang sangat ampuh untuk memajukan sebuah bangsa. Tengok saja Amerika Serikat, negara dimana perusahaan-perusahaan multinasional di bidang teknologi berasal. Kemudian Jepang, dengan Restorasi Meijinya mampu membalikkan keadaan negara yang luluh lantak menjadi negara digdaya seperti sekarang. Ketika Restorasi Meiji berlangsung, Jepang mengirimkan 1.000 pelajar terbaik ke luar negeri dan mendatangkan 299 guru asing. Antara tahun 1860 hingga 1903, Jepang mengerahkan kemampuan untuk memperbaiki pendidikan khususnya di bidang sains. Hingga puncaknya, di tahun 1904, karya ilmiah pertama Jepang muncul yaitu model atom Saturnus dari Kelompok Nagaoka. Ada juga India, negara yang terkenal dengan kemiskinannya. Pada tahun 2000, investasi besar-besaran pemerintah di bidang sains dan teknologi seperti pemasangan kabel optik bawah laut, satelit dengan harga computer yang makin murah, pemakaian internet dan search engine seperti Google yang makin menjamur membuat India saat ini mampu bersaing dengan Amerika. Terpilihnya Sundar Pichai, orang India kelahiran Pune yang menjabat sebagai CEO Google membuktikan bahwa warga India mampu mengalahkan warga Amerika. Oleh karena itu penguasaan IPTEK tidak diragukan lagi menjadi hal yang wajib bagi kelompok yang ingin disegani di dunia.

Sayang sekali, baik Amerika Serikat, Jepang, India dan negara adikuasa lainnya adalah negara yang mayoritas penduduknya nonmuslim. Sementara itu, negara-negara islam masih enggan memikirkan ayat-ayat kauniyah yang jumlahnya empat per lima dari Al-Quran. Sains sebagai perwujudan dari ayat-ayat kauniyah masih terabaikan. Umat islam masih saja berkubang dalam romantisme kejayaan Islam pada masa dinasti Abbasiyah tanpa melakukan sesuatu untuk merebut kejayaan itu kembali. Tidak heran, hingga saat ini islam belum mampu tampil menjadi negara dunia pertama, malah tersisihkan dan menjadi bangsa penggembira.

Merujuk data Science Citation Index 2004, 46 negara Islam memberi kontribusi 1,17 persen pada penerbitan karya ilmiah dunia. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan dengan sumbangan satu negara, seperti India dan Spanyol, yang masing-masing 1,66 perssen dan 1,48 persen. Dua puluh negara Arab menyumbang 0.55 persen dari total karya ilmiah dunia, sedangkan Israel menyumbang sebanyak 0,89 persen. Sementara negara-negara maju, seperti Jerman, Inggris, atau Jepang, berturut-turut menyumbang 7,1 persen, 7,9 persen, dan 8,2 persen, apalagi Amerika 30,8 persen. (Purwanto, 2008, p.25).

Padahal sekali lagi, telah diterangkan dalam QS Al-Imran ayat 190-191 bahwa kita telah diperintahkan oleh Allah untuk memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. Bukan lagi agar umatnya bersyukur dan mengingat Allah, tetapi agar umat islam mampu menegakkan nama islam di dunia. Agar umat islam mampu membuktikan eksistensinya di dunia sehingga akan ada lebih banyak lagi orang yang memeluk agama islam untuk kemudian membuktikan bahwa islam memang benar-benar agama rahmatan lil’ alamiin, rahmat bagi seluruh alam semesta.

Sekaranglah saatnya pemuda-pemuda muslim bangkit, singsingkan lengan, dan merebut kejayaan islam kembali. Pemuda muslim harus menjadi pemuda yang kritis memikirkan fenomena-fenomena di sekitar mereka. Berawal dari mempertanyakan fenomena itu, kemudian menggali ilmunya. Lebih dari itu, dalam mencari ilmu, pemuda muslim sejati adalah pemuda yang senantiasa mengaitkan ilmu mereka terhadap apa yang tercantum dalam Al-Quran. Momentum inilah yang harus digunakan pemuda muslim untuk keluar, melihat betapa luasnya dunia, dan menunjukkan pada dunia betapa hebatnya islam.

 

REFERENSI

Al-Quranul Karim

Purwanto, Agus. 2008. Ayat-Ayat Semesta. Bandung: Mizan

Lestari, Dewi. 2012. Supernova Partikel. Yogyakarta: Bentang Pustaka

Ashari, Imron. 2016. Asbabun Nuzul dan Tafsir Qur’an Surat Ali Imran Ayat 190-191. (online). (http://www.ipapedia.web.id/2015/12/asbabun-nuzul-dan-tafsir-quran-surat-ali-imran-ayat-190-191.html). Diakses 16 Juli 2016

Abu Azka, Rudi. 2016. Tafsir Surat Ali Imran ayat 190-194. (online). (http://www.ibnukatsironline.com/2015/05/tafsir-surat-ali-imran-ayat-190-194.html). Diakses 16 Juli 2016

Muncypedia. 2014. 10 Ilmuwan Muslim Terbesar dan Terhebat Sepanjang Sejarah. (online). (http://www.munsypedia.com/2013/08/10-ilmuwan-muslim-terbesar-dan-terhebat.html). Diakses 16 Juli 2016

Wikipedia. 2016. Sundar Pichai. (online). (https://id.wikipedia.org/wiki/Sundar_Pichai). Diakses 16 Juli 2016

Wikipedia. 2016. Jepang. (online). (https://id.wikipedia.org/wiki/Jepang). Diakses 16 Juli 2016

Wikipedia. 2016. India. (online). (https://id.wikipedia.org/wiki/India). Diakses 16 Juli 2016

Trapped by Consumerism, Tied by Hedonism

This morning on my way to school, I was reminded on how westernization has sent young generation away from their nation character. Every time I looked at my steps, my eyes caught an ironic view. The “nike shoes” have successfully decorated my friend’s toes. Well, I don’t have any intention to feel envy. Merely, I am just concerned on how consumerism tie them up. The basic question is, how do consumerism exist? Consumerism exist because of westernization. Basically consumerism is the state in which a lot of goods are bought, sold and owned. Consumerism leads us to buy or own a goods which is actually not needed. We do love brand right? We love nike, prada, new balance, roxy, armani, jimmy choo, converse, and so on so far. We have often bought the brand, not the product. Okay, we need shoes, but does it have to be nike? Absolutely no. That’s why we have been trapped in consumerism lifestyle. It’s better for us to buy Indonesian product. You need electronic product? Buy polytron. You need jeans? Buy Lea. You need T-shirt? Buy Peter Says Denim. Yes, I am promoting those products, because I want us to use Indonesian product. I want Indonesian product to dominate our market, not the contrary.

index

source : google.com

Today our obstacle is not only consumerism but also hedonism. As what I saw in dictionary, the word hedonism means living and behaving in ways that mean you get as much pleasure out of life as possible, according to the belief that the most important thing in life is to enjoy yourself. Hedonism has become the young generation lifestyle. One of hedonistic thing is Color Run. What is the advantage of color run? To be healthier or to take some selfies then upload it to social media such as instagram, path, twitter, blackberry messenger? Or maybe to show the world that you have one million rupiah shoes with “a check” sign around the shoes (read : nike) . I am sure that the second and third assumptions are the right ones. Color run trains us to act hedonism. There is no another advantage but fun. We can’t let this phenomenon happened.

The future of our nation is in our hand. But when we as the young generation lose our nation character by developing consumerism and hedonism, what will our country be?

I have a dream that one day, we as the young generation of Indonesia will be wise to filter foreign culture. I have a dream that one day, we will love Indonesian product. I have a dream that one day, we will work harder to study instead of having fun. And I have a dream that one day, WE WILL MAKE INDONESIA PROUD OF US.

source : weheartit.com

source : weheartit.com

That is my first English post. Some of sentences in that text were taken from my speech assignment, but this post represents my original idea, and that is a little gift for all of Indonesia’s young generation.

Titik Bifurkasi

IMG20170503140157-01

Tidak ada orang yang mengatakan bahwa terjebak itu mudah. Terlebih terjebak di dalam titik bifurkasi sendiri.

Titik Bifurkasi, menurut beberapa sumber yang saya baca merupakan titik percabangan. Tidak hanya digunakan untuk istilah sains, namun juga digunakan untuk istilah sosial. Jika saya melihatnya dalam perspektif sosial, bifurkasi merupakan sebuah fase dimana seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan. Ketika sudah sampai klimaksnya, seseorang harus memutuskan.

Sesimple itu, namun faktanya memutuskan pilihan adalah hal yang kompleks.

Pilihan menentukan bagaimana kelanjutan kehidupan kita. Terutama pilihan mengenai cita-cita.

“Mau melanjutkan sekolah dimana?”

Jawaban dari pertanyaan itu masih terjebak di dalam titik bifurkasi yang saya ciptakan sendiri. Bagaimana jika permintaan orang-orang disekitarmu bertentangan dengan batinmu? Bagaimana jika cita-cita orang disekitarmu berbeda dari cita-citamu?

Disekitarmu, orang-orang menyerukan bahwa cita-cita bukan hanya urusan nurani, tapi juga jasmani. Kemudian kamu menyuarakan bahwa cita-citamu semata-mata hanya untuk mengabdi dan mengikuti nurani, mereka membantahmu karena sebagai makhluk ekonomi, kamu juga butuh materi.

Lantas, apa hakikat kehidupan jika kita hanya berfokus pada materi, dan mengabaikan pengabdian?

Bagi siapa saja yang tengah bergulat dengan titik bifurkasinya, percayalah bahwa Allah SWT selalu ada untuk membimbing kita menentukan jalan mana yang harus kita ambil.

Learn to life

Pagi-pagi Alhamdulillah termotivasi dengan post kakak ini 🙂

hembusan angin lembut

Aku terburu-buru, sementara Tuhan memintaku menunggu.

Aku gelisah, sementara Tuhan memintaku bersabar.

Aku penasaran, sementara Tuhan tetap diam.

Aku mencari, Tuhan menyaksikan.

Tidak ada bayi yang bisa berjalan, seingin-inginnya ia untuk membuat satu langkah. Bahkan ketika lewat tangisnya ia memohon untuk bisa berjalan. Ia takkan pernah bisa berjalan.

Saat dewasa, aku lupa betapa Ia pelan-pelan menurunkan rahmat padaku, sesuai kemampuanku. Saat bayi, aku tak mampu berjalan. Agar aku mendapat pelukan kasih sayang dari Ibu dan Ayahku. Memiliki banyak waktu untuk terus lekat bersama mereka. Semakin mampu aku berdiri, aku akan terpisah dari mereka. Mereka juga akan terpisah dariku.

“Innallaaha Ma’ashshabiriin”

“Allah bersama orang yang sabar”.

Yang terburu-buru, gelisah, dan penasaran harus bersabar. Karena kesabaran menghadirkan Dia. Dalam pucuk-pucuk doa dan pengharapan. Itulah caraNya mengajarkanmu kasih sayangNya.

Lihat pos aslinya

Manusia dan Rasa Superiornya

Homo sapiens. Spesies yang sesungguhnya paling berbahaya di muka bumi ini.

Dengan merasa sebagai spesies yang paling superior, dunia bisa hancur karena keserakahannya. Leucopsar rothschildi yang kita kenal dengan jalak bali hampir punah sebagian besar karena ulah Homo sapiens ini. Bahkan karena rasa superiornya, Homo sapiens ini mampu ‘memangsa’ spesiesnya sendiri.

Itulah Homo sapiens. Itulah kita.

Mungkin tidak semuanya sebengis itu, namun tidak jarang kita merasa bahwa kita sudah lebih baik dari orang lain. Saya pun tidak memungkiri pernah bersikap demikian. Kita menganggap diri kita superior, yang paling pintar, yang paling cantik, yang paling berprestasi, yang paling ahli dan “yang paling-yang paling” lainnya. Pada akhirnya kita memandang rendah orang lain.

Malam ini saya berhasil berkaca, bahwa kita semua SAMA. Kita satu spesies. Kita lahir di bumi yang sama. Kita sama-sama disusun dari sel eukariotik. Kita sama-sama tidak dapat dilihat dari Planet Mars dengan mata telanjang. Tidak sepatutnya kita bersikap seolah-olah kita adalah yang paling hebat.

Sering saya mendengar “Yang membedakan manusia adalah amal ibadahnya”. Saya sepenuhnya setuju dengan kalimat tersebut. Bahkan Allah SWT tidak membeda-bedakan umat-Nya dengan sesuatu yang bersifat duniawi. Bagaimana mungkin, kita sebagai umat-Nya masih saja menjadikan kelebihan duniawi kita sebagai landasan untuk bersikap superior?